Tarekat Al Fisbuqiyyah

facebook

Hampir sebulan aku tidak menulis blog. Maklumlah karena sekarang aku semakin disibukkan dengan kegiatan di Jamaah Tarekat Al Fisbuqiyyah. Mulanya aku sudah lamat-lamat mendengar perkara Facebook ini. Waktu itu kuanggap ia sebuah negeri asing, khusus untuk mereka yang mau nampang dan butuh teman. Maka aku enggan masuk, sebab kupikir aku tidak suka nampang (sebuah dugaan yang sangat keliru, ternyata). Tapi kemudian ada yang memaksaku untuk mengubah sikap.

Aku di-invite oleh teman ku yg sudah lebih dahulu bergabung di Facebook. Ternyata dari satu orang teman, bertambah menjadi tiga, lima, sepuluh dan hingga kini sudah hampir 400 orang. Hebatnya lagi aku menemukan teman satu sekolah saat SMA, SMP bahkan SD..!!

Sejak itu aku menemukan satu hal: aku suka jadi warga Facebook, aku suka tampil, aku suka bergaul, dan aku amat cerewet. Setiap kegiatanku dan apa yang ada dalam benakku aku mau teman-temanku mengetahuinya dengan aku selalu meng-update statusku. Aku sudah menjadi bagian dari satu himpunan pengguna atau anggota Facebook yang diperkirakan berjumlah sekitar 170 juta di seluruh dunia.

Aku tak tahu persis berapa besar umat itu di Indonesia. Yang kutahu, begitu aku “masuk” ke dalam paguyuban ini, aku menemukan begitu banyak kenalan dan bukan kenalan yang terdaftar sebagai “kawan”. Karena aku tak telaten, temanku (syukurlah) tak lebih dari 400. Ada kenalan yang punya “kawan” sampai 5000. Mereka umumnya setia dan tekun. Maka bisalah kita menamakan mereka sebagai bagian dari Jemaah Tarekat Al-Fisbuqiyyah.

Jemaah ini unik. Setelah aku amati, juga sambil mengamati diri sendiri, aku melihat ciri-ciri mereka:

  1. Tak betah kalau tak berada dekat komputer dengan sambungan internet, bila menggunakan Blackberry benda tersebut selalu berada di tangannya.
  2. Bersedia menghabiskan waktu beberapa jam sekali duduk untuk bercengkerma dengan sesama “kawan”, lama maupun baru atau tertawa-tawa sendiri sambil memainkan Blackberry nya.
  3. Gemar menulis segala sesuatunya, yang penting dan terutama yang tidak penting.
  4. Mereka umumnya periang. Mereka merasa menemukan sebuah wilayah tersendiri dengan demokrasi yang praktis penuh: tiap orang, pakar atau bukan, pintar atau bodoh, dapat mengutarakan pendapatnya dan merasa sederajat dengan orang lain.

Maka ada yang mengeluh: buat apa mendengarkan pendapat orang-orang yang tak punya otoritas apapun mengenai satu hal, misalnya soal demam berdarah, kampanye legislatif, atau musibah Situ Gintung? Tapi keluhan semacam ini memang datang dari mereka yang belum terbiasa dengan fasilitas internet.

Jemaah Al-Fisbuqiyyah muncul pada zaman pasca-Hamurabi. Teks tertulis terus dibikin (disebut “posting”, atau “message”), tetapi tak sendirian lagi seperti Kode Hammurabi yang ditatah di batu. Teks itu tak sendirian karena tak jarang dicampur dengan gambar atau musik dan segala yang bersuara. Juga tak jarang bercampur dengan ciri-ciri kelisanan, misalnya ada “ciileee”, “akhhhh”, “nikh”, dan lebih sering lagi, “he-he-he-he”.

Teks itu juga dikerumuni teks-teks lain, para anggota al-Fisbuqiyyah lain. Teks zaman pasca-Hammurabi tak punya otoritas, apalagi yang tak terbantah. Yang ditulis Fareed Zakaria di Newsweek sama bobotnya dengan Farid yang bukan Zakaria, misalnya Farid Gaban atau Farid Gundulpringis. Kalau kita baca The Washington Post On-line, misalnya, sebuah kolom opini penulis beken selalu disertai satu ruangan di bawahnya tempat siapa saja bisa berpendapat. Zaman pasca-Hammurabi atau zaman Tarekat Al-Fisbuqiyah, adalah zaman “inter-aktif”. Maka di sini orang bisa repartee, tukar menukar lelucon, saling meledek. Semua berjalan cepat dan – ini yang penting – relatif murah ketimbang “san-dek” (pesan-pendek atau SMS).

Aku akui bahwa aku dan para anggota Tarekat umumnya suka nampang, tapi tidak benar pula Facebook, yaitu masjidnya Tarekat Al-Fisbuqiyyah, telah jadi wahana buat narsisme. Ada sebuah tulisan di The Jakarta Post yang menuduh demikian, tapi yang benar bukanlah narsisime, melainkan ekshibisionisme. Narcissus mengagumi wajahnya sendiri di kolam, sendirian. Sedang umat Al-Fisbuqiyyah memperlihatkan diri ke segala penjuru di mana temannya ada. Dengan catatan, “diri” itu tentu saja “diri” yang tak lengkap, sudah diedit, bahkan disamarkan. Dan “teman” tentu saja tak bisa semuanya. Ada semangat pamer dan juga berbagi. Terkadang sulit untuk sepenuhnya privat. Kita bisa dipotret waktu sedang tak ingin kelihatan dan di-”tag” fotonya ke FB oleh teman atau “teman” — yang ketika disiarkan lalu dilihat ratusan atau ribuan orang lain yang tak selamanya tahu apa gerangan konteks adegan dalam foto itu.

Mungkin di sini perlu ada kode etik atau cara buat menghormati yang privat. Tapi Kitab al-Tag-tag-an, salah satu kitab kuning Tarekat al-Fisbuqiyyah, belum merumuskan itu. Akhirnya, apa keuntungan jadi anggota Tarikat? Aku tidak tahu. Mungkin tak ada. Bahkan ada kantor yang melarang karyawannya sibuk dengan Facebook, takut mengganggu produktifitas kerja. Benarkah kegiatan ini membikin banyak teman? Benar dan tidak.

Jelas, aku bertambah kenalan yang menyenangkan. Tapi aku juga melihat ada orang-orang yang memasang pesan atau komentar atau catatan untuk menyalurkan agresifitasnya, dengan menghina atau memfitnah. Atau, dengan menunjukkan kepintaran sendiri, mencemooh orang lain. Umumnya dengan bahasa Inggris. Kadang-kadang dengan bahasa Belanda. (Belum di temukan anggota Tarekat dari Indonesia yang pamer kepinteran dalam bahasa Hawaii dan Tegal).

Bagiku, salah satu fungsi jadi anggota Tarekat tak banyak, kecuali sebagai selingan: membuat aku santai, di tengah-tengah ketegangan mengerjakan hal-hal yang pelik. Aku hitung 86% dari waktuku di FB adalah buat bergurau. Sebagai seorang insomniak yang bersertifikat, aku menggunakannya buat mengisi waktu ketika sulit tidur. Aku tak tahan untuk terus menerus melek dan serius. Aku juga tak tahan untuk berteman dengan orang yang terus menerus melek dan serius.

Mungkin disinilah kita bisa memilah-milah mana yang bermanfaat bagi kita dan mana yang mendatangkan mudhorot. Maka kita ambil yang positifnya saja dan buang yang jeleknya.

Mugo2 Allah melindungi kita semua dan selalu memberikan aman, selamat, lancar dan barokah.

3 responses to this post.

  1. Posted by Rayhan on 4 April 2009 at 22:40

    Tulisannya lucu dan menghibur. Menurut saya ‘tarekat’ ini sekadar trend, lama2 jg org akan bosan dan pindah ke trend yg lbh baru dan menarik lainnya. Saya aja dah mulai bosen, mending baca tulisan2 menarik kyk ini. Keep writing ya

    Reply

  2. Posted by tika on 10 April 2009 at 12:57

    setuju dengan apa yang di tulis oleh mas Tangguh ini..
    intinya agar tetap menjaga diri.. kontrol diri masing2.. (ups aku gak salah tulis yach..) bila memanfaatkan media yang lagi di-asyik-in buanyak orang ini…
    …kata pak ustat sesuatu yang berlebihan itu jadi tidak baik…

    Reply

  3. sayang sekali aku belum bisa buat blog. mas tangguh ini namanya sufi muda yang benar benar tangguh.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.